Wakil Ketua Ganas Annar MUI Pusat, Anwar Azis
JAKARTA, – Wakil Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba Majelis Ulama Indonesia Pusat (Ganas Annar MUI Pusat), Anwar Azis, mengapresiasi keberhasilan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto bersama jajaran Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta unsur terkait yang menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin hidroklorida (HCl) melalui kapal tanker MT Global 168 di perairan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara.
Azis menyampaikan apresiasi tersebut setelah media mengonfirmasi keterangannya pada Sabtu (24/10/2026). Menurutnya, pengungkapan tersebut merupakan langkah penting dalam memperkuat pemberantasan narkoba sekaligus menunjukkan kemampuan aparat dalam membaca pergerakan jaringan penyelundupan lintas negara.
“Ganas Annar MUI mengapresiasi langkah tegas Kapolri dan seluruh aparat yang terlibat dalam menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin ini. Ini bukan sekadar menyita barang bukti dalam jumlah besar, tetapi juga bentuk nyata perlindungan negara terhadap masyarakat dan generasi muda dari ancaman narkoba,” kata Azis.
Pengungkapan tersebut dilakukan setelah aparat melakukan pemantauan terhadap pergerakan MT Global 168 sejak Agustus 2026. Informasi mengenai kapal itu juga dikembangkan dari dokumen docking yang ditemukan pada kapal Fuchangxing 1 yang sebelumnya terungkap membawa sekitar 800 kilogram ketamin.
Azis menilai pola tersebut menunjukkan bahwa jaringan penyelundupan narkoba semakin menggunakan modus yang terorganisasi dan memanfaatkan jalur laut internasional.
“Modusnya menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menghindari deteksi aparat. Karena itu, pengawasan tidak boleh hanya dilakukan ketika kapal sudah memasuki wilayah Indonesia, tetapi harus dimulai dari pemetaan pergerakan kapal dan pertukaran informasi sejak dini,” ujarnya.
Menurut informasi yang disampaikan aparat, MT Global 168 sempat bergerak dari kawasan Pasir Gudang, Johor, Malaysia, menuju perairan Andaman, Thailand, dan kemudian melakukan aktivitas ship-to-ship atau pemindahan muatan antarkapal di laut. Dalam pemantauan berikutnya, aparat juga menemukan anomali pada sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS) yang menunjukkan adanya penggunaan identitas kapal yang berbeda.
Azis menilai temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mengembangkan penyidikan lebih jauh.
“Anomali AIS dan aktivitas ship-to-ship harus menjadi pintu masuk untuk mengungkap siapa pemasoknya, siapa penerimanya, siapa yang membiayai, serta siapa yang mengendalikan operasi tersebut. Jangan sampai penindakan hanya berhenti pada awak kapal yang berada di lapangan,” kata Azis.
Dalam pengungkapan tersebut, aparat mengamankan delapan awak kapal, terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing asal Taiwan. Kapolri menyebut para awak tersebut memiliki peran berbeda dalam pengoperasian kapal.
Azis mendorong aparat untuk terus mengembangkan perkara guna memastikan seluruh pihak yang terlibat dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
“Yang paling penting sekarang adalah pengembangan kasus. Siapa aktor intelektualnya, siapa pemodalnya, dari mana ketamin itu diperoleh, siapa yang memesan, dan ke mana tujuan akhirnya harus diungkap. Jaringan internasional tidak boleh hanya dilihat dari pelaku yang tertangkap di kapal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti identitas kapal MT Global 168 yang diketahui berbendera Mongolia, namun tercatat atas nama Makmur Marine Petroleum, sebuah perusahaan yang beralamat di Johor Bahru, Malaysia. Kapolri menyatakan fakta tersebut masih akan didalami untuk melihat kemungkinan keterlibatan korporasi maupun pihak lain dalam jaringan penyelundupan.
Menurut Azis, informasi mengenai kepemilikan dan registrasi kapal harus ditelusuri secara hati-hati dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.
“Identitas perusahaan yang tercatat sebagai pemilik kapal tentu menjadi bagian penting dalam penyidikan, tetapi keterlibatan korporasi atau pihak tertentu harus dibuktikan berdasarkan fakta dan alat bukti. Yang kita dorong adalah pengungkapan secara tuntas dan profesional,” ujarnya.
Dalam penggeledahan, petugas menemukan 58 karung berisi 1.160 bungkus ketamin HCl, masing-masing sekitar satu kilogram. Barang bukti tersebut ditemukan di ruang pompa (pump room) kapal. Aparat juga menyita kapal MT Global 168 dan sejumlah alat komunikasi.
Azis mengatakan jumlah barang bukti tersebut menunjukkan besarnya potensi ancaman yang berhasil dicegah sebelum masuk lebih jauh ke dalam jaringan distribusi.
Kapolri memperkirakan pengungkapan 1,16 ton ketamin tersebut berpotensi menyelamatkan sekitar 5,8 juta jiwa dari risiko penyalahgunaan. Pemerintah juga memperkirakan potensi biaya rehabilitasi yang dapat dihindari mencapai ratusan triliun rupiah berdasarkan asumsi biaya rehabilitasi per orang.
“Angka 1,16 ton itu bukan sekadar angka statistik. Di balik jumlah tersebut ada jutaan masyarakat yang berpotensi menjadi korban. Karena itu, keberhasilan ini harus dilihat sebagai upaya menyelamatkan generasi bangsa,” kata Azis.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat yang bergerak dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba, Ganas Annar MUI Pusat, lanjut Azis, mendorong agar keberhasilan penindakan diikuti dengan penguatan aspek pencegahan, edukasi, rehabilitasi, dan pemutusan jaringan distribusi.
Azis juga meminta agar aparat memperkuat pengawasan terhadap jalur laut yang selama ini menjadi salah satu pintu masuk strategis bagi penyelundupan narkoba.
“Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dan berada pada jalur perdagangan internasional. Kondisi ini harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang semakin kuat, berbasis teknologi, intelijen, dan koordinasi lintas lembaga,” katanya.
Ia mengapresiasi sinergi Bareskrim Polri, BNN, Bea Cukai, Ditpolair Baharkam Polri, dan Polda Sumatera Utara dalam pengungkapan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi lintas institusi merupakan kunci menghadapi jaringan narkoba yang bekerja melewati batas negara.
“Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa ketika informasi, intelijen, teknologi, dan kekuatan penegakan hukum disatukan, ruang gerak sindikat narkoba dapat dipersempit. Sinergi seperti ini harus terus diperkuat,” ujar Azis.
Azis berharap pengungkapan MT Global 168 tidak berhenti sebagai keberhasilan operasi semata, tetapi menjadi momentum untuk membongkar jaringan yang lebih besar di balik penyelundupan narkoba melalui jalur laut.
“Ganas Annar MUI Pusat mendukung penuh langkah aparat untuk mengusut perkara ini sampai tuntas. Bongkar jaringan, putus aliran dananya, telusuri pemasok serta penerimanya, dan pastikan tidak ada ruang bagi sindikat narkoba untuk mengulangi modus yang sama,” pungkasnya.
Ia menegaskan, pemberantasan narkoba membutuhkan kerja bersama antara aparat penegak hukum, pemerintah, tokoh agama, dunia pendidikan, masyarakat, dan keluarga.
“Perang melawan narkoba bukan hanya tugas aparat. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk menyelamatkan generasi bangsa. Negara harus hadir secara tegas, masyarakat harus ikut mengawasi, dan seluruh elemen bangsa harus menolak segala bentuk penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba,” tutup Azis.
