Transformasi digital dan tata kelola pelayanan juga menjadi bagian dari pengembangan rumah sakit.
Sejumlah inovasi layanan telah dikembangkan, di antaranya Hello Care, Curhat Yuk, Lentera Nabza, Sobat Jiwa, Rojana, dan Genzi untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Dari sisi tata kelola, rumah sakit meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2025. Capaian tersebut menjadi salah satu modal untuk memperkuat pelayanan yang transparan, akuntabel, berintegritas, dan berorientasi pada masyarakat.
Kinerja pengelolaan BLUD juga menunjukkan peningkatan. Pendapatan BLUD rumah sakit disebut telah mencapai sekitar Rp26 miliar, meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran Rp13 miliar.
Peresmian nama baru tersebut turut mendapat apresiasi dari keluarga Alamsyah Ratu Perwiranegara.
Putra tertua Alamsyah, H. Yusuf Heri Utama Alamsyah, berharap nama ayahnya dapat menjadi bagian dari semangat pengabdian melalui pelayanan kesehatan yang profesional dan humanis.
“Bagi kami dan kita semua, almarhum adalah sosok teladan yang selalu berpegang agar hidup bermanfaat bagi kita semua. Penamaan RSUD ini sangat sejalan dengan napas perjuangan beliau untuk melayani, menyejahterakan masyarakat,” ujar Yusuf.
Ia berharap rumah sakit tersebut dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan berdedikasi kepada masyarakat.
“Kami menitipkan nama almarhum agar rumah sakit ini dapat menjadi pusat pelayanan kesehatan prima, humanis, dan berdedikasi tinggi,” katanya.
Dengan perubahan nama tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap Rumah Sakit Alamsyah Ratu Perwiranegara tidak hanya dikenal karena nama tokoh yang disandang, tetapi juga karena kualitas pelayanan, profesionalisme, integritas, dan manfaatnya bagi masyarakat.
Penguatan sumber daya manusia, sarana kesehatan, tata kelola, teknologi, serta layanan kesehatan jiwa diharapkan mampu memperluas akses pelayanan sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai salah satu daerah dengan layanan kesehatan rujukan di wilayah Sumatera bagian selatan.
